Tampilkan postingan dengan label Saham Gorengan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham Gorengan. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Maret 2020

Cara Cepat Membaca Saham Gorengan

Jumlah saham gorengan di Indonesia sangat banyak. Selain itu, menilai apakah suatu saham masuk dalam daftar saham gorengan atau tidak, juga membutuhkan penilaian subjektif dari setiap orang.
Jadi tentu saja kita tidak bisa menyebutkan semua saham gorengan satu per satu. Daftarnya bisa jadi sangat panjaaang. Di beberapa pos berikut yang bisa anda pelajari disini: Daftar dan Contoh Saham Gorengan, Kenali Saham Gorengan di Indonesia. 

Saya seringkali mendapatkan pertanyaan dari rekan-rekan: ''Bung Heze, gimana caranya kita bisa mengetahui secara cepat apakah suatu saham masuk saham gorengan atau bukan?" 

Kalau anda bertanya cara melihat saham gorengan SECARA CEPAT, di pos ini saya akan memberikana beberapa tips agar anda bisa mengetahui apakah suatu saham masuk saham gorengan atau tidak. 

1. Lihat saham-saham top stocks

Untuk melihat saham2 gorengan, anda bisa melihat daftar saham yang masuk dalam top stock, yaitu saham2 yang masuk di top gainer dan top loser (pada software online trading anda). 

Atau anda bisa sort / urutkan saham2 berdasarkan kenaikan yang paling tinggi sampai penurunan paling rendah berdasarkan percentage % change-nya. Berikut salah satu contoh tampilan saham-saham yang masuk alam top gainer: 

Daftar saham gorengan
Saham2 yang masuk dalam top gainer, adalah saham2 yang bisa naik puluhan persen dalam waktu singkat (termasuk waran). Anda bisa lihat saham2 diatas seperti YPAS yang naik 35,76% atau saham ITIC yang naik 24,76%. 

Saham2 yang mudah naik dalam puluhan persen dalam sehari adalah ciri-ciri saham gorengan. Demikian juga dengan saham2 yang turun puluhan persen sehari. Hal ini karena saham gorengan memiliki likuiditas yang sangat rendah, sehingga sahamnya sangat mudah dinaik-turunkan oleh bandar dalam waktu singkat. 

2. Lihat saham2 yang selama jam trading harganya 0 atau Rp50

Jika anda sort harga saham berdasarkan tinggi rendahnya harga saham saat itu, maka anda akan melihat banyak sekali saham yang saat jam trading harganya Rp50 atau bahkan 0. Saham-saham yang harganya 0 (nol) adalah saham yang tidak ditradingkan di hari itu. 

Saham2 yang diperdangkan di sekitar harga Rp50 dan saham2 yang tidak ditradingkan, adalah saham-saham yang tidak likuid, dan suatu saat ketika saham2 tersebut ditradingkan, umumnya bid-offer dan naik-turunnya juga tidak stabil. Ini adalah ciri-ciri saham gorengan. 


Diatas adalah contoh-contoh saham yang tidak diperdagangkan, sehingga last price-nya Rp0. 

Jadi kalau anda menemukan saham tidur (tidak ditradingkan), atau saham2 yang harganya mendekati gocap, maka saham2 tersebut boleh dikatakan saham gorengan. 

"Tapi Pak Heze, selain saham-saham tersebut, pasti masih ada lagi kan yang masuk dalam daftar saham gorengan?" Tanya anda.  

Yap, dua cara diatas tadi adalah CARA CEPAT membaca saham gorengan. Tapi dengan dua cara itu, anda sudah bisa mendapatkan ratusan daftar saham gorengan di Indonesia, karena di Bursa Efek ada ratusan saham yang harganya Rp0, Rp50 atau yang naik-turun puluhan persen dalam waktu singkat. 

Kalau anda ingin mencoba "cara yang lebih lama", dalam arti analisis saham gorengan yang lebih spesifik, anda harus lebih dalam menganalisa beberapa poin. Dan kita sudah membahasnya disini: Kenali Saham Gorengan di Indonesia. 
Sabtu, 25 Januari 2020

Saham Suspend & Saham Gorengan

Di web Saham Gain, beberapa kali kita mengulas tentang pergerakan-pergerakan saham. Dan salah satu pergerakan saham yang berisiko untuk ditradingkan adalah saham-saham gorengan. 

Likuiditas yang kecil dan fluktuatif harga yang tidak terkontrol menyebabkan banyak trader ritel yang terjebak di saham-saham gorengan ini. 

Ada banyak cara untuk mengetahui apakah suatu saham masuk dalam saham gorengan atau tidak. Anda bisa pelajari beberapa ulasan saya disini: Kenali Saham Gorengan di Indonesia

Salah satu cara paling mudah melihat saham gorengan adalah dengan melihat daftar saham yang sedang di suspend oleh Bursa Efek Indonesia. Daftar saham suspen bisa anda lihat di situs IDX berikut: Suspensi Saham IDX. 

Kalau anda belum tahu tentang suspensi saham dan mengapa suatu saham terkena suspen, anda bisa baca tulisan saya disini: Arti dan Ilustrasi Supsensi Saham.  

Intinya, saham-saham yang terkena suspen umumnya adalah saham2 yang bermasalah secara fundamental dan teknikal (pergerakan harganya tidak wajar) dan mayoritas saham2 yang terkena suspen adalah saham2 yang harganya sangat rendah (biasanya dibawah Rp1.000 per saham).

Untuk anda suka trading dan mencari saham2 yang harganya murah, saya menyarankan agar anda menghindari alias blacklist saham-saham yang dalam waktu dekat sedang terkena suspen.  

Hal ini dikarenakan saham-saham yang terkena suspen, ketika masa suspen-nya dibuka oleh Bursa Efek, pergerakan sahamnya biasanya sangat liar dan volatilitasnya tinggi. Banyak saham yang setelah masa suspen, harganya langsung terjun bebas. Contohnya seperti saham POSA berikut ini: 

Saham POSA
Saham POSA sempat terkena suspen selama kurang lebih 2 minggu. Setelah suspensi dibuka (tana lingkaran), saham POSA terus terjun bebas sampai harganya balik ke titik terendah (Rp50). Hal ini juga terjadi pada banyak saham yang pernah terkena kasus suspen (Contohnya seperti saham SIAP, IATA). 

Walaupun ada kemungkinan suatu saham bisa naik tinggi setelah masa suspen, namun ada baiknya anda tidak perlu bertaruh membeli saham2 yang risikonya besar, karena hal ini berbahaya untuk karir trading anda.

Saya seringkali menemukan trader yang tidak berhati-hati dalam membeli saham. Trader membeli saham hanya karena tertarik dengan pergerakan harganya yang sedang cepat. Padahal saham tersebut belum lama terkena kasus suspen. 

Akhirnya saham2 suspen tersebut justru menjadi bumerang bagi trader. Oleh karena itu, anda yang suka mencari saham2 harga murah dengan volatilitas agak tinggi, sering-seringlah cek saham2 yang sedang di suspen (di situs IDX), agar anda tidak terjebak membeli saham2 yang sedang bermasalah.

Berikut ini adalah contoh saham2 yang sedang di suspen oleh Bursa Efek (dibagikan oleh salah satu member di grup FB Saham Gain):  

Klik gambar untuk memperbesar

Saham2 yang di suspen diatas misalnya saham TRAM, SMRU, MYRX adalah saham2 yang waktu itu sangat bermasalah baik secara fundamental dan teknikal (anda bisa cari di Google tentang kasus Bentjok). Dan saham2 yang sudah bermasalah seperti ini, harganya akan cenderung turun sampai di harga gocap. Kalau saham sudah di harga gocap, anda tidak akan bisa menjualnya di pasar reguler. 

Jadi untuk saham-saham yang sedang di-suspen, ada baiknya anda blacklist sahamnya terlebih dahulu dari daftar trading anda. 
Kamis, 23 Januari 2020

Saham IPO = Saham Gorengan

Setiap ada saham yang barusan listing / melantai di Bursa Efek (terutama beberapa hari pertama), harga sahamnya biasanya akan naik dengan sangat cepat. Hari pertama bisa naik 30%. Demikian juga beberapa hari setelahnya, saham2 IPO masih bisa lanjut naik sampai puluhan persen. 

Tentu saja pergerakan saham2 IPO ini seringkali membuat para trader saham tergiur untuk mentradingkannya. Siapa yang nggak mau dapat untung 20-30% hanya dalam waktu singkat? 

Saya juga sering menerima pertanyaan teman-teman trader: "Pak apakah ada tips untuk trading di saham2 yang baru IPO? Soalnya biasanya naiknya cepet banget"

Namun kita semua tahu bahwa beberapa ciri saham gorengan adalah kenaikan harga sahamnya yang sangat cepat, dengan likuiditas rendah dan fluktuatif yang nggak wajar. 

"Jadi apakah saham IPO itu masuk dalam kriteria saham gorengan ya Pak Heze?" Tanya anda 

Betul, boleh saya katakan bahwa saham2 IPO mayoritas adalah saham-saham yang bergerak naik-turun tidak wajar, dengan likuiditas yang rendah. Kesimpulannya, banyak saham IPO yang merupakan saham-saham gorengan. 

Dalam 3-4 tahun terakhir, saya memperhatikan saham-saham yang baru IPO selalu punya pergerakan saham yang tidak wajar di awal2 IPO-nya, dan ujung2nya selalu berakhir jadi saham gorengan. Tidak sedikit juga saham2 IPO yang ditinggal bandar. Baca juga: Ciri-ciri Saham yang Ditinggal Bandar. 

Faktanya, walaupun banyak saham IPO yang punya brand ternama, tapi tidak lama kemudian sahamnya selalu berakhir dengan pergerakan harga yang jelek, downtrend dan tidak likuid. Anda bisa perhatikan contohnya seperti saham Garuda Food dan Campina. 

Emiten tersebut punya brand yang cukup terkenal, dan bahkan digadang-gadang akan menjadi saham blue chip yang baru. Namun, fakta justru berkata sebaliknya. Sekarang sahamnya 'tenggelam', nggak banyak dibicarakan, likuiditas sahamnya juga sangat rendah. 

Saham CAMP
Anda bisa lihat contoh saham Ice Cream Campina (CAMP) diatas, di mana tren sahamnya turun terus pasca IPO, dengan volume yang tipis. Dan mayoritas saham IPO selalu punya pergerakan saham yang kurang lebih seperti chart CAMP diatas, bahkan banyak yang pergerakan sahamnya lebih buruk. 

Mengapa hampir semua saham IPO itu pergerakannya seperti saham-saham gorengan? Apakah hal ini menandakan bahwa pasar saham kita tidak sehat? Apakah saham2 IPO masih layak ditradingkan?

Kita semua tidak pernah tahu apa tujuan sebenarnya perusahaan bersedia untuk go public. Secara teori, tujuan perusahaan go public adalah untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal. Tapi saya yakin praktikknya tidak sehitam putih itu. 

Kalau tujuannya hanya untuk itu, saya yakin banyak manajemen perusahaan yang ogah untuk IPO. IPO itu sendiri juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Setelah IPO, perusahaan juga memiliki banyak kewajiban, keterbukaan informasi yang harus diungkapkan ke publik. Perusahaan harus membayar biaya-biaya seperti: 

- Biaya jasa pencatatan tahunan saham pada Bursa Efek. 
Biaya pengawasan ke Otoritas Jasa Keuangan melalui situs SIPO.OJK.GO.ID. 
- Biaya jasa kantor akuntan publik (audit laporan tahunan)
- Biaya jasa penyimpanan dan penyelesaian transaksi efek ke Kustodian
- Biaya jasa notaris (untuk RUPS)

Dan tentu itu semua costly alias butuh biaya yang tidak sedikit. Di satu sisi, perusahaan harus mengungkapkan keterbukaan informasi yang akurat (jumlah pemegang saham Direksi Komisaris), keterbukaan laporan keuangan kepada publik, kewajiban menyelanggaran RUPS (biaya lagi dan lagi). 

Jadi dalam hal ini untuk bisa mendorong perusahaan2 tertutup agar mau go public, Bursa Efek memberikan insentif2. Beberapa diantaranya adalah memberikan keringanan biaya IPO, dan keringanan minimal jumlah saham beredar. Hal ini karena Bursa Efek juga ingin mengejar target jumlah saham yang IPO di Indonesia. 

Dengan adanya keringanan2 ini, maka mulai banyak perusahaan yang IPO. Jadi nggak heran kalau mayoritas perusahaan2 IPO zaman sekarang sahamnya sangat tidak likuid, karena banyak perusahaan yang "asal-asalan" dalam IPO, mengingat syarat jumlah saham beredarnya tidak sesulit dulu (dengan saham yang sedikit sudah bisa IPO).

Di satu sisi, manajemen perusahaan bersedia IPO karena ada 'tujuan-tujuan lain', yaitu "orang dalam" (owner dan manajemen) ingin mendapatkan KEUNTUNGAN PRIBADI dari kenaikan harga sahamnya di pasar reguler (setelah IPO). 

Bagaimana caranya? Ya dengan "menggoreng" sahamnya sendiri, yang biasanya juga dilakukan melalui 'bantuan pihak ketiga' (bandar). Dari aksi goreng-menggoreng sahamnya sendiri itulah "orang dalam" bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari saham-saham yang berhasil listing di Bursa.

Anda mungkin ingat dengan kasus saham POSA yang digugat melalui jalur hukum karena kegiatan menggoreng saham dalam jumlah masif, yang banyak sekali memakan korban trader ritel. Baca juga: Belajar dari Kasus Saham POSA. 

Apabila anda cermati pergerakan saham2 IPO, hampir semua pergerakan harga sahamnya sangatlah tidak wajar. Setelah saham naik tinggi, harganya bisa jatuh drastis sampai balik lagi ke harga IPO, dan mendadak nyaris tidak ada transaksi sama sekali. 

Ya inilah yang dinamakan dengan permainan bandar dan "orang dalam", karena seperti yang saya tuliskan tadi: Kalau perusahaan dianjurkan untuk IPO hanya dengan tujuan "biar dapat pendanaan segar", "biar nilai perusahaan bertambah", maka manajemen perusahaan juga pasti akan penuh pertimbangan dalam IPO. 

Walaupun sudah ada insentif2 yang diberikan Bursa Efek, tapi tentu saja manajemen juga ingin mendapatkan keuntungan dari saham yang sudah di-listing-kan di pasar saham. Cara satu2nya dengan menaik-turunkan harga saham sesuai keinginannya.

Apalagi dengan keringanan dan insetif2 itu tadi, maka syarat IPO jadi lebih mudah. Dengan saham beredar yang sedikit, perusahaan sudah bisa go public. Semakin sedikit jumlah saham yang dilepas ke market, semakin mudah manajemen untuk 'setting' harga sahamnya. Paham sampai disini? 

SAHAM IPO SANGAT BERISIKO

Nah, kita semua sudah tahu permainan saham-saham IPO ini. Itu artinya, saham IPO adalah saham yang sangat berisiko untuk trading. 

Jujur saja, saya sangat tidak menyarankan anda untuk trading di saham IPO, terutama kalau saham IPO itu baru listing di hari-hari awal. Kalau anda ingin trading di saham2 IPO, saran saya tunggulah paling tidak 1-2 minggu setelah sahamnya IPO dan pergerakannya sudah tidak seliar hari-hari awal. 

Dan untuk saham2 IPO, anda bisa pertimbangkan untuk trading cepat alias scalping. Anda harus jauh lebih disiplin untuk take profit dan cut loss, serta menggunakan modal kecil. 

Mayoritas saham2 IPO tidak bisa kita tebak arah pergerakannya, karena bandar lebih banyak berperan mengatur harganya demi keuntungan manajemen. 

Jadi kalau anda menyimpan saham2 IPO yang tidak likuid dan fundamentalnya juga tidak jelas, maka risikonya akan besar. Contohnya seperti saham SWAT. Baca disini: Saham IPO yang Menjebak Trader: Studi Kasus Saham SWAT. 

Semoga pos ini bisa membuka wawasan kita semua tentang trading saham. Pesan saya, jangan mudah tergiur oleh saham-saham IPO yang selalu jadi top gainer. 

Ada banyak permainan saham IPO yang sangat berpotensi merugikan trader, dan saham2 IPO yang tidak likuid akan sulit untuk dibeli (banyak spread bid-offernya yang renggang). 

Untuk menciptakan portofolio saham yang sehat, prioritaskan untuk membeli saham2 yang bagus secara teknikal dan fundamental.

SAHAM IPO YANG SEHAT 

Kedepan saya (dan anda juga pasti sependapat) sangat berharap agar banyak perusahaan dengan kinerja yang benar2 bagus bisa melantai di Bursa, dan bisa mencatatkan jumlah saham beredar yang banyak, sehingga sahamnya jadi likuid. 

Sebagai trader dan investor, semakin banyak perusahaan sehat yang masuk Bursa, semakin bagus juga kualitas pasar saham dan kesempatan kita meraih profit dan mengurangi risiko akan semakin besar. 

Selain menjalankan aktivitas trading saham, kita semua juga turut berdoa yang terbaik agar kualitas pasar saham kita semakin baik dan berjaya. 
Sabtu, 18 Januari 2020
Saham Gorengan: Belajar dari Kasus Jiwasraya

Saham Gorengan: Belajar dari Kasus Jiwasraya

Pasar modal Indonesia sempat ramai dengan adanya kasus PT Asuransi Jiwasraya (belakangan ini kasus Asabri yang mirip Jiwasraya juga banyak dibicarakan) yang membeli saham-saham gorengan di portofolionya.

Jiwasraya adalah perusahaan asuransi, di mana perusahaan menerbitkan produk JS Saving Plan sejak 2013 dengan menawarkan bunga diatas bunga deposito, dan risiko kerugian / investasi ditanggung Jiwasraya. Dengan cara seperti ini, perusahaan tentu memiliki kewajiban yang besar untuk membayar polis asuransi yang ditawarkan pada nasabah. 

Jadi dalam hal ini, Jiwasraya membutuhkan modal untuk menutup beban perusahaan dengan cara meningkatkan "Pendapatan Investasi", sekaligus untuk 'mempercantik' laporan keuangannya (window dressing) di akhir tahun. 

Salah satu caranya adalah dengan investasi saham. Yang jadi persoalan, mayoritas saham yang dibeli  Jiwasraya adalah saham-saham gorengan. 

Dan saham-saham gorengan yang dibeli Jiwasraya ini pada akhirnya memberikan dampak yang sangat fatal pada laporan keuangannya. Nilai investasi Jiwasraya di saham2 gorengan turun dari Rp5,6 triliun menjadi sekitar Rp1,4 triliun. 

Beberapa saham gorengan yang diinvestasikan Jiwasraya antara lain POLA, TRAM, JGLE, LCGP, PCAR. Kita semua tahu bahwa saham-saham tersebut bukanlah saham yang baik secara fundamental dan likuiditas. 

Walaupun saham-saham ini sempat naik sangat tinggi dalam waktu cepat, dan Jiwasraya sebenarnya juga ikut berperan menggoreng saham-saham yang dibeli (dalam hal ini Jiwasraya bukan hanya sebagai korban tapi juga sebagai bandar). Namun karena fundamental perusahaan jelek dan likuiditas rendah, cepat atau lama saham2 jelek tersebut pasti akan turun lagi. 

Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap nilai aset (investasi) secara keseluruhan. Inilah yang menyebabkan perusahaan mengalami gagal bayar polis. 

Jiwasraya hanya menempatkan kurang lebih 5% investasi saham2nya pada saham blue chip / LQ45, dan sisanya masuk di saham-saham yang berisiko tinggi (saham gorengan). 

Sebab kalau perusahaan melakukan investasi di saham-saham blue chip misalnya, di mana banyak saham blue chip yang belakangan ini trennya juga tidak terlalu uptrend, maka kemungkinan besar beban polis asuransinya tidak akan bisa ditutup dari Pendapatan Investasi perusahaan. 

Namun karena Jiwasraya telah mengambil keputusan yang salah, dengan membeli saham gorengan, menempatkan investasi dengan tidak berhati-hati (reckless), maka hal inilah justru menjadi bumerang bagi perusahaan sendiri. 

Hanya karena Jiwasraya ingin melakukan window dressing, dan menutup beban perusahaan, Jiwasraya nekad "berinvestasi" pada saham-saham yang tidak sehat. Hal ini menunjukkan adanya manajemen perusahaan yang buruk dalam mengelola modal. 

BELAJAR DARI KASUS JIWASRAYA 

Kita semua sebagai trader saham, bisa mengambil banyak pelajaran penting dari Jiwasraya. Nah, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kasus Jiwasraya ini?

1. Trading / investasi dengan cara yang wajar

Produk JS Saving Plan yang dikeluarkan oleh perusahaan sebenarnya sudah cukup berisiko untuk perusahaan. Perusahaan menawarkan investasi dengan pengembalian bunga diatas bunga deposito, dan risiko kerugian / investasi ditanggung Jiwasraya hanya karena perusahaan ingin mencari banyak nasabah dan mendapatkan nama besar. 

Hal ini pada akhirnya menyulitkan perusahaan itu sendiri, dan ujung2nya perusahaan harus mengambil jalan untuk membeli saham2 gorengan, untuk window dressing laporan keuangannya. 

Keputusan2 investasi yang tidak dipertimbangkan dengan tepat, akan membuat RASIONALITAS dalam mnengambil keputusan lanjutan menjadi kacau. Hal ini sudah terbukti dari adanya kasus Jiwasraya tersebut. 

Sebagai trader / investor, kita juga perlu mengambil keputusan dengan cara yang benar. Jangan gegabah mengambil keputusan trading hanya karena ingin cepat dapat untung. 

Jangan berharap untuk cepat kaya dari saham padahal anda belum memahami ilmunya. Akibatnya, anda bisa membeli saham2 yang berisiko, dan tanpa anda sadari hal ini akan membuat modal anda cepat habis.   

2. Perusahaan besar saja bisa rugi di saham gorengan... Apalagi kita trader ritel  

Saat kasus Jiwasraya menjadi trending topic, saya banyak membaca pendapat2 trader saham: "Perusahaan sekelas Jiwasraya aja bisa nyangkut di saham gorengan, apalagi trader kecil".

Saya sangat setuju dengan kalimat tersebut. Kalau perusahaan besar saja bisa rugi di saham gorengan, apalagi trader perorangan. 

Sayangnya banyak trader yang terjebak membeli saham pom pom / saham gorengan melalui rekomendasi2 di grup, dengan iming2 bakalan naik 15%. Padahal trader sendiri tidak tahu apakah saham tersebut layak untuk dibeli atau tidak. 

Nah, inilah yang pada akhirnya membahayakan trader. Banyak trader yang terjebak membeli saham gorengan karena ingin dapat untung fantastis dalam waktu cepat, tanpa mempertimbangkan risiko, dan profil trader itu sendiri. 

Jadi di dalam trading saham, anda harus berusaha untuk membatasi risiko, salah satu caranya selain menganalisa saham sebelum membeli, anda bisa mengurangi porsi saham2 gorengan. 

Tidak ada salahnya anda membeli saham gorengan, namun anda harus menganalisa, membatasi risiko, dan tetap utamakan saham2 low risk di portofolio anda. 

Itulah sedikit banyak tentang kasus jiwasraya dan berbagai pelajaran penting yang bisa kita ambil dan evaluasi bersama sebagai trader saham.
Jumat, 10 Januari 2020
Saham Gorengan: Cara Kerja Saham Pom Pom

Saham Gorengan: Cara Kerja Saham Pom Pom

Dalam trading saham, anda pasti sering sekali mendengar istilah saham pom pom. Terutama kalau anda join di grup-grup saham, pasti banyak sekali saham-saham yang sedang di pom pom. 

Jadi apa itu saham pom pom? Apakah saham seperti itu layak ditradingkan? Kenapa di grup-grup banyak direkomendasikan untuk membeli saham-saham pom pom? 

Intinya saham pom pom itu adalah SAHAM GORENGAN alias junk stock alias saham-saham lapis tiga (third layer). Yup, jadi kalau anda sering baca-baca tulisan di web Saham Gain ini, saya sudah sering membahas saham-saham gorengan. Pelajari juga: Saham Gorengan. 

Maka, istilah saham pom pom ini sebenarnya ya nyaris sama dengan saham gorengan. Tapi saham pom pom adalah saham yang SEDANG AKTIF-AKTIFNYA DINAIKKAN dengan cepat oleh BANDAR SAHAM. 

Lalu, bagaimana mekanisme saham yang di-pom pom tersebut? 

'Pom' berasal dari kata 'pump' yang artinya adalah memompa. Suatu benda (katakanlah bola basket) kalau dipompa pasti ukurannya akan semakin besar dalam waktu cepat. Jadi saham pom pom adalah saham yang dipompa agar harganya naik semakin tinggi dalam waktu singkat. Siapa yang memompa sahamnya? Tentu saja bandar saham. 

Bandar saham, dalam hal ini bisa perusahaan sekuritas atau beberapa kelompok tertentu (tentu dengan modal besar) berencana menaikkan harga Saham A dengan cara menyebarkan sentimen dan rumor tertentu, biasanya dilakukan melalui grup. 

Atau bandar biasanya hanya memberikan 'arahan' bahwa Saham A akan naik, ke harga sekian. Padahal jelas sekali bahwa saham A adalah saham yang tidak likuid, teknikalnya nggak jelas, pergerakan harga sahamnya sering tidak beraturan. Tujuannya, tentu saja trader2 ritel akan ikut membeli saham A, sehingga memudahkan bandar untuk mentransaksikan sahamnya. 

Dengan cara seperti ini, sang bandar akan lebih mudah membeli dan menjual sahamnya sendiri (melalui "bantuan" trader ritel yang ikut trading), dan bandar punya kesempatan untuk terus menaikkan harga saham di harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga awal. Aksi menaikkan harga saham secara cepat inilah yang dinamakan dengan aksi pom-pom / pump ('memompa' harga saham).

Perlu diingat juga, bahwa bandar bisa membeli dan menjual saham menggunakan rekening saham dengan nama lain (yang mentradingkan sebenarnya orang2 / pihak yang sama). Itulah mengapa seringkali saham gorengan harganya terlihat bisa bergerak begitu cepat, padahal transaksinya tidak likuid, dan sepertinya saham gorengan harganya bisa diatur dengan mudah secara cepat. 

Hal ini dikarenakan banyak 'transaksi semu' yang sebenarnya dilakukan oleh bandar yang sama, hanya menggunakan rekening yang berbeda nama. 

Nah ketika saham A sudah naik tinggi, dan di saat bersamaan semakin banyak trader2 ritel yang masuk di saham A, karena trader2 yang sebelumnya diajak membeli melalui grup2 saham, berpikir: 

"Wihh beneran naik tinggi nih. Kayaknya saham A ini bakalan naik lagi. Kalau nggak beli sekarang, bisa ketinggalan kereta. Ikutan ah, udah banyak trader lain yang dapat profit di Saham A ini."

Secara tidak disadari, trader2 ritel ikut "membantu" bandar untuk pom pom saham di harga yang sudah tinggi. Jadi katakanlah saham A sebelumnya hanya di Rp80, setelah di pom pom bandar harganya jadi Rp92. 

Setelah itu, banyak trader ritel ikutan masuk, dan sahamnya naik lagi jadi Rp97. Di sisi lain, sebenarnya masih ada bandar-bandar yang memasang bid (beli) pada harga Rp91, Rp92. Jadi kalau sudah naik ke Rp97, artinya bandar yang pasang bid di harga Rp91 pun sudah untung banyak. 

Ketika saham A sudah beneran naik tinggi sesuai harapan bandar, bandar kemudian akan melakukan aksi jual saham secara besar-besaran, sehingga harganya turun secara drastis tanpa ampun. Bahkan kalau bandar sudah jual besar-besaran, harga saham bisa turun puluhan - ratusan persen. 

Dan kalau bandar sudah nggak tertarik menaikkan alias pom pom lagi sahamnya, maka ya sudah, sahamnya akan berada di harga itu-itu saja dalam waktu lama. 

Itulah kenapa buanyaaak trader ritel yang selalu mengeluh: "Sahamku nyangkut di harga puncak. Begitu dibeli, langsung anjlok parah sahamnya."

Setelah saya cek, ternyata saham yang dibeli adalah saham2 lapis tiga, yang dari chartnya sudah di pom pom bandar (karena naik tinggi secara masif dalam waktu singkat). 

Karena banyak trader yang sudah terjebak membeli saham pom pom melalui "arahan" di grup, dan tidak sedikit trader yang ketinggalan kereta akhirnya membeli saham di harga puncak dan secara tidak sadar mereka membantu bandar untuk melakukan pom pom saham juga. 

Di saat itulah bandar melihat banyak trader masuk di harga agak atas, dan sahamnya naik semakin tinggi, bandar langsung jual secara besar-besaran. Turunlah sahamnya secara drastis, dan trader2 yang sudah beli saham di harga atas, banyak yang nggak sempat jualan. 

Saham yang di pom pom umumnya saham lapis tiga, karena saham2 lapis tiga memiliki market cap yang kecil dan biasanya nominal harga sahamnya juga sangat rendah, sehingga likuiditasnya juga kecil. 

Hal inilah yang membuat bandar lebih mudah melakukan pom pom pada suatu saham, karena kalau bandar ingin pom pom di saham blue chip misalnya, maka akan jauh lebih sulit dilakukan, karena di saham2 blue chip dan saham2 likuid, peminatnya (trader ritel) banyak, dan saham2 blue chip nominalnya cenderung mahal dibandingkan saham2 gorengan. 

Banyak trader yang mencari saham2 murah (dibawa Rp500, atau bahkan cuma Rp100-an) dengan tujuan dapat untung cepat, banyak dengan modl sekecil mungkin. Momen seperti inilah yang dimanfaatkan bandar untuk "merekomendasikan" pada trader2 ritel saham2 yang akan di pom pom. 

PELAJARAN PENTING DARI SAHAM POM POM

Mengingat banyak trader ritel yang sering terjebak di saham pom pom, maka ada baiknya kita semua mengambil pelajaran penting dari saham pom pom yang berisiko tinggi: 

1. Jangan mudah percaya dengan rekomendasi2 di grup2 saham 
2. Waspadai rekomendasi saham gorengan
3. Semakin banyak saham gorengan di-blow up, risiko di pom pom semakin besar
4. Selalu analisa saham sebelum membeli
5. Prioritaskan di saham2 likuid
6. Pahami analisa teknikal & fundamental sebelum anda beli saham 
7. Jika ingin trading saham pom pom, anda harus disiplin take profit & cut loss 
Selasa, 26 November 2019

Trading di Saham Gorengan

Di pasar saham Indonesia, kita mengenal banyak jenis saham: Saham blue chip, saham middle cap (saham lapis dua), saham-saham small cap. Mayoritas saham small cap banyak yang masuk dalam saham gorengan. 

Kalau anda ingin mengetahui ciri2 saham gorengan, anda bisa baca kembali tulisan saya disini: Kenali Ciri-ciri Saham Gorengan di Indonesia. 

Saham blue chip merupakan saham2 perusahaan yang memiliki kinerja mapan, mayoritas sahamnya punya pergerakan harga yang stabil dan likuid. Sedangkan saham2 lapis dua biasanya adalah perusahaan2 yang sedang bertumbuh, dan perusahaan2 yang sudah merupakan "pemain lama" di Bursa, namun dari segi size, masih kalah dengan blue chip. 

Sedangkan saham gorengan adalah saham2 perusahaan yang kinerjanya kurang baik, kapitalisasi pasar kecil. Sehingga, harga sahamnya mudah dipermainkan pergerakannya oleh bandar alias banyak di pom-pom. 

Saham2 yang punya pergerakan baik dan likuid, harga sahamnya akan cenderung lebih mudah naik dan rebound. Saham2 tersebut juga memiliki pola2 yang lebih mudah dianalisa dengan analisis teknikal. 

Sebaliknya, saham2 gorengan karena banyak di pom-pom bandar, dan likuiditasnya sangat kecil, maka saham2 gorengan tidak memiliki pola chart yang bisa dianalisa dengan baik, serta pergerakan harganya hanya bisa ditebak oleh bandar. 

POLA SAHAM GORENGAN 

Saham gorengan bisa naik puluhan persen dalam waktu beberapa menit saja. Tapi sebaliknya, saham gorengan juga bisa jatuh 20% lebih hanya dalam hitungan menit. 

Saham yang digoreng bandar, karena saham tersebut memiliki kinerja keuangan yang kurang baik, dan likuiditasnya rendah. Logikanya, kalau saham tersebut memang sangat baik secara fundamental, maka pasti saham tersebut lebih banyak diincar dan dibeli trader. 

Oleh karena itu, tidak jarang bandar memanfaatkan rumor atau berita2 tertentu untuk menggoreng / menaikkan harga sahamnya, dengan tujuan menciptakan kesan seolah-olah sahamnya bagus buat trading, likuid dan bisa memberikan profit yang besar. 

Ada banyak sekali contohnya. Misalnya saham MPMX berikut: 

Saham gorengan
Saham MPMX harganya di pom-pom (tanda persegi), ketika ada pengumuman laba bersih yang naik 798% dan MPMX akan mengumumkan pembagian dividen yang besar. Kita juga sudah pernah bahas disini: Analisa Saham MPMX dan Dividend Trap.

Namun setelah informasi dividen berakhir, MPMX harganya langsung dijatuhkan bandar (tanda lingkaran), dan MPMX tidak kembali lagi ke harga sebelum di pom-pom. 

Ini adalah salah satu contoh cara bandar menggoreng saham-saham yang tidak likuid, dengan memanfaatkan berita untuk pom-pom suatu saham untuk menciptakan kesan seolah harga saham dan fundamental perusahaan mulai bagus. Padahal disitulah bandar hanya menjebak trader ritel. 

SAHAM GORENGAN YANG MENGUNTUNGKAN? 

Apakah ada saham gorengan yang menguntungkan? 

Pasti ada, dan saya yakin kalau anda punya pengalaman trading di saham gorengan, anda pasti pernah menemukan beberapa saham gorengan yang bisa memberikan profit berkali-kali dalam jangka pendek. 

Tapi berdasarkan pengalaman saya, tidak ada saham gorengan yang pergerakannya bisa ditradingkan terus untuk jangka panjang. 

Banyak saham gorengan yang awalnya punya pergerakan bagus, namun setelah bandar sudah 'cabut' dari sahamnya, harga sahamnya tidak bergerak dan hanya sideways di harga support-nya. 

Hal ini beda dengan misalnya, saham2 blue chip atau saham second liner yang punya pergerakan harga bagus, sehingga bisa ditradingkan terus selama bertahun-tahun. 

Sekarang kita sudah tahu kalau saham gorengan itu high risk, meskipun tampaknya menggiurkan karena harganya bisa naik cepat. 

Kalau anda sudah nyangkut di saham gorengan, anda harus pertimbangkan untuk cut loss dan evaluasi trading anda. Maka dari itu, jika anda trading saham gorengan, saran saya: 
  • Disiplin dalam take profit dan cut loss 
  • Jangan beli saham gorengan karena ikut-ikutan
  • Jangan mudah percaya dengan saham gorengan yang katanya bagus di grup2 saham
  • Tradinglah dengan modal kecil (maksimal 10% modal anda)
  • Jika saham gorengan sudah tidak sebagus dulu, tinggalkan sahamnya
Kamis, 31 Oktober 2019
Strategi Trading di Saham Gorengan

Strategi Trading di Saham Gorengan

Saham gorengan / saham lapis tiga merupakan saham2 yang pergerakannya tidak stabil, sulit dianalisa dengan analisa teknikal (pergerakan harga saham lebih tergantung dari bandar saham) dan memiliki fluktuatif harga yang sangat tinggi. 

Kalau anda menemukan saham yang likuiditasnya rendah (volume kecil, bid-offernya cuma sedikit), tapi harga sahamnya bisa naik dan turun puluhan persen dalam waktu singkat (menitat), maka itulah ciri-ciri saham gorengan. 

Saham-saham lapis tiga terkadang bid-offernya bisa cenderung tebal, tetapi pergerakan harganya tetap volatil, bisa naik dan turun puluhan persen dalam waktu singkat. Menurut versi saya contohnya seperti TRAM dan BUMI. Saham2 seperti ini adalah saham2 lapis tiga. Baca juga: Kenali Saham Gorengan di Indonesia

Di dalam trading, khususnya anda trader ritel saya memang tidak menyarankan untuk terlalu sering membeli saham gorengan, karena risikonya besar. Akan tetapi, bukan berarti anda tidak boleh beli saham gorengan. 

Nah, jika ingin membeli saham gorengan, anda harus melakukan dengan strategi yang tepat. Berikut beberapa strategi trading di saham gorengan yang bisa anda terapkan: 

1. Pilih saham gorengan yang memiliki pola historis 

Ada saham2 gorengan yang hampir tidak ditradingkan, sehingga tidak punya pola2 historis. Maka dari itu, untuk mempelajari pergerakan saham gorengan, anda hendaknya memilih saham2 gorengan yang chart-nya memiliki pola2 historis. 

Hal ini karena pola2 historis di suatu saham berpotensi terulang, sehingga pola-pola yang sama atau mirip dapat terulang kembali pola harganya di masa mendatang. 

Selain itu, dalam membeli saham lapis tiga, anda juga harus menggunakan analisa teknikal  (khususnya candlestick) disamping melihat net buy-sellnya. Kombinasi2 tersebut dapat anda gunakan untuk membaca saham2 yang punya potensi naik dalam jangka waktu menitan. Pelajari juga: Cara Trading Cepat 15 Menit - Scalping Trading. 

2. Hindari membeli saham gorengan IPO 

Saham yang baru IPO beberapa hari biasanya memiliki pergerakan harga sangat liar. Maka dari itu, hindarilah membeli saham2 IPO yang sedang digoreng bandar. 

Carilah saham-saham yang minimal sudah ada pola-pola chart dan analisa teknikalnya, sehingga anda lebih mudah melihat potensi pergerakan harganya. 

Kalau anda membeli saham2 yang baru IPO, anda belum bisa menganalisa chartnya. Di satu sisi, banyak saham IPO yang sudah naik cepat selama beberapa hari, harga sahamnya sangat rawan jatuh dalam waktu cepat. 

3. Gunakan modal sekecil mungkin (maksimal 10% modal trading anda) 

Inilah poin yang sangat penting. Saya menyarankan pada anda untuk menggunakan modal kecil jika membeli saham gorengan. Gunakan modal maksimal 10% dari modal anda. 

Karena saham2 gorengan ini berisiko, jangan pernah menjadikan trading saham sebagai gambling, dan tetap lakukan analisa sebelum anda membeli. 

Banyak trader yang nekad masuk dengan modal besar di saham gorengan karena ingin cepat kaya dalam waktu cepat. Memang dengan beli saham gorengan, anda bisa untung besar dalam waktu cepat. 

Tapi risikonya juga sebaliknya. Anda bisa rugi besar dalam waktu cepat. Pergerakan saham gorengan yang tidak konsisten, membuat anda akan sulit mendapatkan untung konsisten jangka panjang jika anda hanya membeli saham2 gorengan. 

Oleh karena itu, supaya anda dapat menciptakan portofolio saham yang sehat, gunakanlah modal kecil untuk membeli saham gorengan, dan prioritaskan modal lebih besar untuk beli saham2 yang risikonya kecil. 

4. Disiplin

Anda harus jauh lebih disiplin dalam menetapkan take profit dan cut loss, mengingat pergerakan saham gorengan yang tidak pasti. Kalau target profit anda sudah tersentuh, segera jual dan jangan terus berharap harga saham anda naik terus. 

Sebaliknya, kalau saham anda turun dibawah target, anda harus segera eksekusi cut loss. Banyak trader yang tidak mau cut loss di saham gorengan, dan akibatnya trader nyangkut di saham2 lapis tiga ini sampai bertahun-tahun. Tentu saja hal ini tidak baik untuk portofolio anda. 

Empat strategi trading di saham gorengan ini dapat anda terapkan, untuk anda yang mau mencoba trading di saham gorengan. Untuk anda tipikal trader konservatif, anda bisa menghindari saham2 gorengan ini dan memilih saham2 yang lebih rendah risikonya seperti saham2 LQ45. 
Minggu, 20 Oktober 2019

Studi Kasus Saham Suspend: Saham ARTO

Saham ARTO adalah salah satu saham yang punya pergerakan "menarik", karena saham ARTO bisa naik 6 kali lipat (dari harga 400 ke 2.400) hanya dalam kurun waktu 2 bulan lebih. Kenapa saya bahas saham ini? 

Beberapa kali saya mendapatkan pertanyaan dari rekan2 yang ingin membeli saham ARTO. Namun, ada juga beberapa rekan trader yang terkena suspen saham ARTO ini. Kita coba perhatikan pergerakan grafik saham ARTO yang sangat 'menggiurkan' ini: 

Saham ARTO
Saham seperti ini tentu sangat berbahaya. Walaupun ARTO bisa naik setinggi itu, namun pergerakan harganya tidak mencerminkan fundamentalnya. Dan kalau anda perhatikan selama jam trading, ARTO memiliki pergerakan harga yang tidak likuid, dan spread bid-offer yang jelek. Pelajari juga: Mengenal Spread Bid-Offer di Pasar Saham.  

ARTO juga memiliki 'riwayat' suspen saham dari Bursa Efek, di mana selama 2 bulan tersebut ARTO sudah di suspen sebanyak 4 kali. Hal ini menandakan bahwa saham dengan tipikal: 

- Sering terkena suspen
- Kenaikan harga saham tidak wajar
- Harga saham tidak likuid
- Tidak didukung fundamental yang baik 

Adalah saham2 yang berisiko untuk trading. Kalau anda beruntung membeli saham ARTO di harga 400 atau 700, dan saham Anda naik sampai 2.400, maka anda profit. 

Tapi kalau anda sudah 'ketinggalan kereta' alias di harga 2.000-an anda belum punya saham ARTO, maka saran saya jangan mengejar saham yang geraknya seperti itu, karena kalau suatu saham sudah bergerak tidak wajar selama berhari-hari, saham tersebut akan sangat rawan terkena suspen. 

Memang setelah suspensi saham dibuka, tidak menutup kemungkinan harga saham akan naik lagi. Contohnya ARTO yang sudah disuspen beberapa kali, harga sahamnya masih lanjut naik. 

Namun, kita semua tidak tahu apakah setelah saham di suspen saham tersebut bakalan naik lagi? Atau jangan-jangan setelah suspen berikutnya harga saham langsung dibanting oleh bandar? Who knows?

Apalagi kalau anda memegang saham ARTO dan saham anda di suspen berkali-kali, apakah anda tetap bisa trading dengan nyaman, dengan tenang? 

Tipsnya, kalau anda menemukan saham gorengan yang sudah naik tinggi, apalagi sampai kena auto reject 3-4 hari berturut-turut, anda harus waspadai saham tersebut. Jangan mudah tergiur dengan profitnya, karena saham2 yang pergerakannya seperti itu sangat rawan di suspen. 

Kalau suspen sudah dibuka (unsuspend) alias sudah bisa ditradingkan sahamnya, maka saham tersebut bisa lanjut naik, atau sebaliknya langsung turun puluhan persen. Dan tentu saja hal ini juga nggak baik untuk psikologis, apalagi buat trader pemula. 

Prinsip saya pribadi, jangan sampai trading saham mengganggu aktivitas sehari-hari. Tradinglah dengan enjoy. Caranya, carilah saham2 yang pergerakannya baik bisa dianalisa dengan analisa2 umum (analisa teknikal). 

Apa yang saya tulis di pos ini, bukan bermaksud melarang anda untuk membeli saham apapun itu. Semua keputusan trading tetaplah anda di tangan anda, dan memilih saham adalah hak anda masing2. 

Namun di dalam trading, ada baiknya anda mempertimbangkan tipikal2 saham, terutama saham2 gorengan, dan saham2 yang potensi / sering terkena suspen (saham2 tersebut sangat berisiko). 

Minggu, 29 September 2019
Nyangkut di Saham Gorengan, Bagaimana Solusinya?

Nyangkut di Saham Gorengan, Bagaimana Solusinya?

Pada saat anda membeli saham, dan saham yang anda beli harganya bergerak turun tidak sesuai dengan target anda, namun anda memutuskan untuk tidak jual rugi (cut loss), maka itulah yang dinamakan dengan SAHAM NYANGKUT. 

Di pasar saham, kita semua pasti pernah mengalami saham nyangkut. Entah akhirnya anda harus cut loss atau ternyata saham anda berbalik naik diatas harga beli dan anda profit. 

Tapi bagaimana kalau saham anda yang nyangkut itu adalah saham2 gorengan? Kita semua tahu bahwa saham2 gorengan ini punya pergerakan yang tidak teratur dan fundamentalnya juga tidak terlalu baik. 

Saya seringkali mendapatkan pertanyaan dari trader: "Pak Heze kalau saham2 saya nyangkut, apa saya harus cut loss atau hold dulu?"

Dan ketika saya melihat portofolio mereka, ternyata ada puluhan saham nyangkut yang hampir semua isinya adalah saham2 gorengan dan waran. 

Jadi kalau saham anda nyangkut (mayoritas saham nyangkut anda adalah saham2 gorengan), maka saran saya ada baiknya anda CUT LOSS

Karena mayoritas saham gorengan likuiditasnya sangat rendah, dan kinerja fundamentalnya juga tidak terlalu baik. Anda bisa cek sendiri bagaimana kinerja fundamental (laporan keuangan) saham2 gorengan yang listing di Indonesia. 

Yups, mayoritas saham2 gorengan banyak yang bermasalah dengan kinerjanya, misalnya rugi bersih, atau operasionalnya nggak jelas. Baca juga: Kenali Saham Gorengan di Indonesia.

Dan banyak kasus di mana saham2 gorengan yang setelah turun banyak, sahamnya 'ditinggal bandar', sehingga pergerakan sahamnya flat, dan nyaris nggak ada transaksi trading. 

Nah kalau saham sudah ditinggal bandar, maka saham tersebut akan jauh lebih sulit untuk naik / rebound. Saya juga sudah pernah membahas studi2 kasus saham2 gorengan yang harganya sulit kembali ke harga awal setelah sahamnya dijatuhkan bandar. 

Anda bisa baca-baca kembali disini:  Studi Kasus Saham Gorengan: Balik Harga IPOBelajar dari Kasus Saham POSA dan Studi Kasus: Saham Gorengan dan Saham IPO. 

Hal ini berbeda kalau anda beli saham2 yang likuid dan fundamentalnya bagus. Maka, ketika saham tersebut turun dan harganya sudah diskon / murah, saham tersebut memiliki peluang yang lebih besar untuk diangkat lagi, sehingga anda masih lebih aman jika memegang sahamnya di portofolio anda. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Jadi sebagai seorang trader atau bahkan fundamentalis, tentu saja nggak logis jika di portofolio anda berisi saham2 yang anda sendiri tidak paham dengan kondisi fundamentalnya dan analisa teknikalnya

Karena tujuan anda dan saya untuk mendapatkan profit di saham, maka tentu kita harus melakukannya dengan cara yang benar, yaitu belilah saham2 yang anda paham dengan analisa teknikalnya, maupun fundamental. 

"Pak Heze, tapi kalau saya cut loss semua, rugine gede. Gimana donk?" Tanya anda 

Dalam praktikknya memang tidak semudah itu, karena cut loss itu juga butuh mental dan keberanian trader. Banyak trader yang nggak berani cut loss karena floating loss-nya sudah terlanjut besar. 

Walaupun ada juga trader yang tidak mau cut loss (bukan nggak berani) karena trader masih berharap saham2 gorengannya suatu saat digoreng bandar lagi, sehingga naik ratusan persen, dan trader bisa balik modal (BEP atau bahkan profit). 

Nah kalau memang anda nggak berani cut loss karena kalau rugi besar psikologis anda terganggu, solusi "terbaiknya" anda menunggu saja saham anda dinaikkan lagi oleh bandarTetapi kalau anda sudah mengalami nyangkut di saham gorengan, anda harus BELAJAR DARI PENGALAMAN



Karena jujur saja, saham2 gorengan di portofolio apalagi kalau sahamnya sudah turun banyak dan nggak dinaikkan bandar lagi, maka saham2 tersebut nggak ada untungnya. Saham2 gorengan rata2 juga tidak memberikan dividen seperti halnya saham2 blue chip atau LQ45. 

Anggap saja ini adalah biaya belajar anda di bursa saham. Anda bisa belajar langsung dari PENGALAMAN ANDA SENDIRI, sehingga anda bisa memetik hasilnya di kemudian hari. 

Lalu, Kenapa banyak sekali trader yang nyangkut di saham gorengan? 

Ada banyak penyebab. Namun penyebab utama biasanya adalah ketidaktahuan trader atau trader sudah tahu namun nekad. Banyak trader yang ikut membeli saham2 yang di 'pom-pom' dan berakhir nyangkut, padahal trader sudah paham risikonya. 

Selain itu, banyak trader pemula yang bahkan tidak menyadari bahwa saham2 yang dibeli (nyangkut) adalah saham-saham gorengan, yang fundamentalnya tidak terlalu baik dan secara teknikal pergerakan grafiknya juga nggak jelas (tidak likuid, volume kecil dan sering digoreng bandar). 

Maka dari itu, sebelum anda trading, saya tidak bosan menekankan: Anda harus punya bekal pengetahuan trading, minimal anda bisa baca analisa teknikal dan sudah mengetahui basic2 screening saham yang layak trading. Pelajari juga: Cara Melakukan Screening Saham.

Jadi dalam trading anda harus memprioritaskan untuk memilih saham2 yang punya pergerakan likuiditas yang baik, dan untuk trader, at least perhatikan juga fundamental perusahaan, karena itu perlu. 

Portofolio saham yang sehat harus anda ciptakan supaya anda bisa mendapatkan profit yang lebih maksimal dan konsisten.